Kita dengan segala kualitas kemanusia kita, artinya dengan segala potensi emosi kita baik sedih, senang, marah atau potensi rasional kita, berargumen, menulis, membaca dst, ditolak untuk eksis! Di mata yang memboikot, kita adalah wujud yang tak membutuhkan respon dan apresiasi.”
Baiklah kawan akan ku ungkapkan isi hatiku padamu. Sepertihalnya seseorang menganggap semua perkataanku basi, maka silahkan kalau kamu anggap ini basi — tapi jangan anggap masakan ibumu basi! :p — karena seperti kadang generalisasi adalah pilihan mudah bagi yang malas untuk menalar dan bersikap objektif kontekstual. Ini adalah persoalan personal dan sosial. Kita sebagai subyek atau obyek. Mungkin tentang aku diboikot seorang sahabat.
MUKODIM Ah….
Kawan boikot adalah salah satu senjata yang cukup ampuh ketika kita berhadapan dengan satu masalah dan tidak ingin mengerahkan penanganan materil. Aku, kamu dan mereka ingin ada perubahan di negeri terkutuk ini. Bukan rahasia. Keinginan kita sudah selalu kita suarakan lewat berbagai media. Apakah itu namanya demonstrasi, seminar, pertemuan umum, mosi tidak percaya, press release, atau sekedar Bombing di tembok jalan-jalan pusat kota. Tahukah kamu apa yang paling mudah bagi para budak penjaga sistem tiranik untuk menanganinya? Membiarkannya! Ya, mereka menutup telinga rapat-rapat seolah tidak ada suara-suara yang menginginkan perubahan. Seolah suara-suara yang ada adalah suara arus utama.
Media yang dikuasai kapitalis — dengan fakta bahwa konten proporsinya lebih besar untuk yang berorientasi bisnis keuntungan dari mulai infotainment, pesta-pesta, telenovela dan seterusnya — tidak perlu keluar biaya untuk melestarikan kepentingan majikannya, para kapitalis, cukup dengan menerlantarkan, memboikot suara-suara perubahan itu. Karena tentu saja ia mengancam kedudukan mereka. Media memboikot suara-suara perubahan merupakan hal yang lumrah dilihat dari orientasi bisnis para pemilik media tersebut. Walau tetap suara-suara itu akan terakumulasi di benak massa sejauh mana ia bisa didengar dan menyebar dengan outlet-outlet seadanya / outlet swadaya.
ON DAILY BASIS
Dalam konteks yang sederhana di keseharian kita, sekali lagi ketika kamu ingin menunjukan ketidaksetujuan kamu, oposisi kamu, protes kamu. Kamu bisa melakukan boikot! Well, kamu mungkin pernah tiba-tiba merasa ada yang aneh dalam sikap salah satu kawan aka sahabat. Mungkin tadinya periang. Hampir tiap saat ada saja topik untuk dijadikan bahan diskusi atau bahan tertawaan. Namun saat ini, sahabat kamu itu diam. Tidak bersuara. Seperti tidak memiliki suara. Tidak berkata-kata. Seperti tidak punya kata-kata. Padahal kalian dekat. Yakin, aku kira kamu akan merasa gila! Itu derajat efek yang paling sableng, minimalnya yah greget dan sering jengut-jengut rambut kepala sendiri.
Bila boikot secara bahasa berarti ‘refuse to be involved’ alias menolak untuk terlibat. Artinya menolak untuk ada kontak ada interaksi. Intinya tidak ada kaitan lagi! Maka demikian apa yang kamu alami adalah sinyal bahwa kamu sedang diboikot! Dari definisi secara bahasa saja kamu bisa pahami bahwa boikot bisa jadi merupakan tindakan yang muncul dari satu sikap. Sikap yang dimaksud adalah kalau tidak benci, tidak suka, ill feel dan sejenisnya. Hehehehe yah pokonya serumpunnya dari bencilah.
Aku sendiri terus terang cukup ‘jangar’ bin ‘rieut’ kalau menemukan diri sendiri jadi korban pemboikotan. Apalagi masalah pribadi. Yah, diboikot deh. Ditolak untuk eksis! Kita dengan segala kualitas kemanusia kita, artinya dengan segala potensi emosi kita baik sedih, senang, marah atau potensi rasional kita, berargumen, menulis, membaca dst, ditolak untuk eksis! Di mata yang memboikot, kita adalah wujud yang tak membutuhkan respon dan apresiasi. Wah, siapa sih yang senang ditolak untuk eksis dengan segala kualitas kemanusiaan kita? Allah swt telah menciptakan kita dengan kualitas kemanusiaan, namun ketika ada diantara mahlukNya menolak diri kita untuk ada (dengan potensi2 inheren) dan mengada (dengan kreasi, kreatifitas, ‘kerja’, peran sosial), apa jadinya?
MOVE ON
Balik ke konteks lain. Kamu benci zionis, zionisme, pendudukan Israel atas Palestin atau segala bentuk pendudukan atau penguasaan satu hak oleh entitas atau kelompok negara, ras dst yang tidak berhak, kamu benci Amerika? Kamu bisa boikot segala bentuk produk-produk mereka! Kamu bisa menolak untuk terlibat dalam penjajahan yang mereka lakukan. Hehehehe, kampring bukan lagi nolak, melawan! Ya kan?
Okay, oke, ok, ekoy, mungkin ada yang mempertanyakan efektifitas pemboikotan. Cari di internet angka-angka kerugian yang dialami musuh kita ketika kita memboikot produk2 mereka. Atau masih mempertanyakan untuk hasil yang seharusnya lebih radikal. Yaitu kehancuran musuh! Aka Amerika! Aku sendiri ada rasa percaya bila negera2 kacung Amrik di Tim Teng itu memboikoit Amrik dengan tidak menjual minyaknya atau sekalian menolak untuk dikeruk kekayaannya oleh Amrik, ekonomi Amrik akan limpung! Baiklah, tidak mau panjang lebar.
Silahkan diskusikan untuk konteks perlawanan ini dan kemudian lakukan kesimpulannya! untuk tetap melawan! Namun yang jelas sikap ‘refuse to get involved’ adalah sikap yang minimal saat kita melihat, mengetahui ada kedzaliman, apakah itu pembodohan, penipuan, invasi militer, pembunuhan, pemerkosaan dst. Sepertihalnya ada hadis yang berisi pesan, “Ubahlah kedzaliman dengan tangan….. atau dengan hati (dengan mengingkari) itulah selemah-lemahnya Iman”. Analoginya, boikot adalah usaha minimal ketika kita tidak bisa merubah kedzaliman dengan tangan (kekuatan lebih radiks).
LENZEH, ZIZAY
Balik ke topik keseharian sederhana. Plis deh, koq aku yang jadi korban pemboikotan seehhh…. Wahai hati yang peka, jiwa yang terjaga, jiwa yang tak ingin untuk kembali pada sakitnya diboikot anak manusia, berbaikanlah lagi :p
Karena? Pemboikotan sesama muslim melebihi tiga hari, sekali lagi, SELAMA 3 HARI, hukumnya berdosa! Jangan deh mending beramal dengan berbaikan. Mari kita melakukan gencatan senjata, mari kita CEASE FIRE! :p
DON’T BOYCOTT ME BUT BOYCOTT USA!
Muach muachh….. gemes deh!
Cikorong, Bekasi, Careut Mareut 2008
-Demikian testimonial seperti diutarakan Euis Casmita kepada Solstance-


