NATO, Afghanistan dan Mitos ‘Semua soal Minyak’

Oleh Andrew Winkler

Satu dari mitos-mitos yang terus diulang-ulang dari kampanye palsu ‘perang melawan teror’ adalah bahwa ini semua soal minyak.

Patut diakui, ini memberikan arti yang intuitif. Kenapa pula ‘Axis of Greed’ menghabiskan miliaran dan triliunan dollar untuk menginvasi dan menduduki setumpuk debu dan bebatuan seperti Afghanistan dan Irak dengan alasan yang sulit dipercaya? Tentunya itu dilakukan untuk kepentingan vital geo-strategis, bukan begitu? Lalu mengapa pula kita harus menunjukan kecurigaan kita bila faktanya mitos ini didengungkan oleh tidak saja media anti pemerintah (dissident) namun juga oleh orang seperti mantan kepala Federal Reserve Bank, Alan Greenspan.

Pembantu setan

Saya setuju dalam beberapa hal memang pendudukan atas Irak terkait minyak, atau secara tepat minyak untuk Israel. Pemulihan pipa minyak Kirkuk-Haifa dan konsentrasi tentara Amerika di sepanjang pipa tersebut menjelaskan semuanya. Dengan fakta limpungnya ekonomi Amerika yang tidak bisa dihindari, negara yahudi sangat membutuhkan satu sumber daya pendukung lainnya. Satu sumber pendukung saat ini sebentar lagi mati (Amerika). Dan motivasi perang lainnya yang tidak akan disentuh oleh media yang dikuasai yahudi adalah pemenuhan impian lama tentang ‘Israel Raya’ yang wilayahnya membentang dari sungat Eufrat ke Nil. Ini hanya persoalan waktu hingga tiba saat nya Amerika menyatakan tidak lagi sanggup (untuk terus) menduduki negera tersebut (Irak), dan pembantu setanpun akan senang untuk mengambil-alih.

‘Minyak’ Afghan

Lalu bagaimana dengan Afghanistan? Adakah ladang minyak yang belum ditemukan yang tidak kita ketahui? Cerita bahwa perlunya menduduki negeri itu dikarenakan rencana pembangunan pipa minyak, bagi saya, cerita ini tidak tepat. Ini bukan soal bahwa ‘Axis of Greed’ dan rejim Taliban tidak bisa berjalan bersama. Mereka hanya melakukan tawar -menawar bagian keuntungan opium. Ketika Taliban menutup produksi opium hingga dikurangi 95%, ‘Axis of Greed’ bertindak cepat. Mereka membuat anak miliarder Saudi dan spesialis destabilisasi CIA, Bin Laden — yang kebetulan merupakan tamu dari rejim Taliban– seorang yang dipersalahkan untuk peristiwa 9/11 dan Axis of Greed menggunakannya sebagai alasan untuk menduduki Afghanistan. Dua belas bulan kemudian produksi opium afghanistan malah lebih besar dari sebelum sebelumnya, menutupi tahun yang hilang tanpa produksi, dan 90% kembali di bawah kendali Taliban. Malah inggris membangun kamp pelatihan untuk pejuang Taliban untuk memastikan mereka menjalankan pekerjaannya dengan benar sebagai penjaga tanaman yang berharga.

Franchise Narkotika Inggris

Tidak perlu kaget bahwa tentara NATO di Afghanistan dipimpin oleh seorang komandan inggris. Keluarga Windsor dan Rothschild telah menguasai bisnis narkotika dunia hampir selama dua abad, satu bisnis yang paling menguntungkan. karena kebaikan kebijakan negara soal perlindungan monopoli, perdagangan ilegal obat-obatan telah menjadi satu bentuk Franchise yang mendanai pemeintah-pemerintah bayangan. 90% dari bisnis ini dikuasai oleh badan-badan negara seperti CIA, Mossad dan MI5. Selebihnya dilisensikan kepada apa yang umum diketahui sebagai ‘Kosher Nostra’, yaitu Mafia Rusia, gang-gang motor internasional seperti ‘Hell’s Angels’, yang mana 90% dari mereka adalah orang-orang yahudi dan kelompok-kelompok yang terkenal supremasif seperti ‘the Lubavitch Hassids’.

Sejarah Lama Perang Opium Inggris

Inggris Raya memiliki sejarah dimana ia berperang untuk melindungi kepentingan-kepentingan bisnis narkotika ilegalnya. Perang opium yang terkenal melawan Cina abad sembilan belas hanya soal memaksa pemerintah cina waktu itu untuk memungkinkan impor tanpa batas opium Inggris dari Afghanistan. Semua agresi -agresi kolonial Inggris atas Afghan hanya berkutat soal penguasaan 90% produksi opium terbesar di dunia. Alasan mengapa Amerika membantu Inggris dalam ’sengketa industrial’-nya dengan Afghan adalah janji Inggris untuk berpartisipasi dalam perang / invasi atas Irak dan alasan lainya untuk memulihkan sumber utama pemasukan CIA.

Mengapa Putri Diana harus mati?

Adalah rahasia terbuka bahwa Putri Diana tidak mati karena kecelakaan. Ia tahu banyak soal Franchise obat-obatan milik elit yang berkuasa dan ia terlalu populer untuk disebut seorang teorikus teori konspirasi (bila ia buka mulut soal Franchise itu). Jika saja ia mengungkapkan apa yang ia tahu ke publik, ini akan menjadi pukulan telak tidak saja bagi Monarki Inggris namun juga bagi kepalsuan demokrasi barat secara keseluruhan. Ketika pernikahan Charles dan Diana pecah, elit yang berkuasa di inggris mencoba menutup mulutnya. Malah Rothschild memberinya istana Kesington. Ketika Diana membuat rencana pernikahan dengan Dodi al-Fayed, putra miliarder Mesir, Ratu Elizabeth dan para Bankir yahudinya panik. Mereka takut kehilangan kontrol atas Diana. Dan mereka tidak mau ambil resiko lalu memesan pembunuh paling berpengalaman di dunia (Mossad Israel) untuk membunuhnya. Diana terlalu populer, jika tugas pembunuhan dilakukan yang lain.

sumber:ziopedia.org

← Next post Previous post →

Subscribe / Share

Article by Sol Stance

I am the one of those who rally against the status quo: The Capitalist Hegemony. I take side with those who are oppressed world-wide. The Capitalists should end intervention in the Muslim World. If not, resistance is inevitable by any means possible. As promised through revelation, they will rise Caliphate which is feared and prevented by the Capitalist power. Capitalist agents/ puppet rulers will be removed throughout the Muslim World. Read 316 articles by Sol Stance

Zionist Massacring Peace Activists Again!

Executed with 4 bullets in head

A Call to Muslim Army

professional web hosting