Siapa dibalik Mumbai (1)

Serangan teroris yang terjadi dari tgl 26 Nov- 29 Nov 2008 di kota pusat finansial india, Mumbai, masih menyisakan berbagai pertanyaan hingga saat ini. Betapa tidak, serangan itu terjadi secara bersamaan di 10 tempat termasuk diantaranya Hotel Taj Mahal, Oberoi Trident, Kafe Leopold, stasiun kereta Chhaprapati Shivaji Terminus (CST) dan diberitakan serangan juga terjadi pada pusat gerakan Ortodoks yahudi, Chabad Lubavitch. Para teroris diberitakan seolah hapal betul seluk beluk kedua Hotel tersebut lebih dari apa yang diketahui pekerja hotel. Selama hampir 60 jam, dengan senjata otomatis dan granat, mereka melakukan penembakan, peledakan disana-sini dan mampu bertahan menghalau pasukan khusus India. Ini semua diberitakan dilakukan oleh 10 orang – yang saya tangkap dari narasi pemberitaan paling mutakhir dimana 9 teroris tewas dan 1 orang tertangkap. Dan setidaknya serangan ini menewaskan 188, dimana mayoritas adalah penduduk sipil india, sebagian besar korban penembakan membabi-buta di CST termasuk muslim, 17 polisi dan 30 warga asing.

Ada dua arus opini yang beredar dalam merespon peristiwa tersebut. Pertama adalah opini tentang keterlibatan Pakistan yang didukung narasi-narasi media barat dan media mainstream India. Opini ini bertumpu pada  tuduhan keterlibatan Lashkar e Thaiba, yang diberitakan dibantu pihak ISI (badan intelijen  Pakistan) – setelah sebelumnya tuduhan terhadap Deccan Mujahideen, yang mengklaim bertanggung jawab dengan mengirim email ke berbagai media, tidak begitu meyakinkan dikarenakan tidak diketahui sebelumnya dan sinyalir fiktif (siapapun bisa mengirim imel ke berbagai media dan mengklaim tanggung jawab termasuk).

Update terakhir tuduhan keterlibatan Lashkar e Thaiba diperkuat oleh pengakuan seorang teroris yang tertangkap. Menurut berita dialah yang memakai gelang khas hindu yang mana gerakannya tertangkap oleh CCTV CST. Hasil interogasi terungkap, teroris isi bernama Muhamad Azmal Amir atau Azam Amir Kasav atau Ajmal Qasab dan seterusnya, seperti ditulis di Wikipedia ( di dua link berbeda: http://en.wikipedia.org/wiki/Azam_Amir_Kasav dan http://en.wikipedia.org/wiki/Muhamad_Azmal_Ami) dan mangaku anggota Lashkar e Thaiba, berasal dari daerah Pakistan, Faridkot – yang ironisnya kenapa memakai gelang khas militan hindu yang dalam kepercayaan hindu itu dapat membawa keberuntungan? Dan anehnya teroris ini tidak hapal sama sekali satu ayat dari Qur’an dan konsepsi jihad? Validitas identitas teroris ini masih diperdebatkan. Kontradiksi, simpang siur soal identitasnya memunculkan keraguan salah satunya dibahas dalam sebuah blog.

Opini pertama ini berujung pada kemungkinan operasi militer Amerika terhadap wilayah Pakistan yang dituduh berstandar-ganda, disatu sisi terlihat menjadi partner kuat dalam ‘perang melawan terror’, seperti diketahui ISI sudah sejak lama dekat CIA a.l juga membantu serangan terhadap Thaliban pasca 9/11, disisi lain justru ISI dituduh juga membantu militan. Apalagi diberitakan adanya pendapat pemerintahan Bush, yang bocor ke media barat, bahwa ISI terkait pengeboman kedutaan besar india di kabul beberapa minggu sebelumnya yang menewaskan seorang diplomat dan seorang pejabat pertahanan senior  yang dihormati (Times of India, November 27, 2008).

Dan kedua adalah opini keterlibatan pihak intelijen Mossad, CIA, militan hindu. Opini ini didukung oleh temuan fakta sejak awal pemberitaan perisitiwa serangan tersebut dan beredar diantara outlet berita alternatif (blog, situs, forum diskusi). Pemberitaan sebagian besar merujuk kepada berita-berita media India pada awal-awal setelah peristiwa terjadi antara lain seputar temuan-temuan dari wawancara langsung dengan penduduk setempat -  pemberitaan langsung pada awal-awal peristiwa bersifat “mentah” dengan sedikit kemungkinan manipulasi dari pihak media, berbeda dengan pemberitaan belakangan yang berkembang yang sudah bercampur dengan narasi-narasi pihak yang memiliki kepentingan untuk menutupi apa yang terjadi, termasuk pemerintah india yang mencari alibi dari kelemahan militer dan intelijennya yang dikatakan gagal mengantisipasi peristiwa tersebut.

Opini kedua ini diberkuat juga oleh analisis-analisis latar belakang catatan aksi kekerasan pihak militan hindu sayap kanan dengan dukungan otoritas militer dan pemerintah india. Apalagi adanya fakta bahwa kepala ATS (Anti Terror Squad) Hemant Karkare adalah korban dalam 5 menit pertama serangan dimana Karkare adalah orang yang berhasil membongkar sel teror hindu dalam serangan Malegaon, September 2006. Karkare dapat membuktikan keterlibatan pejabat intelijen militer antara lain Lt Kolonel Srikant Purohit yang berperan dalam penyediaan bahan peledak RDX. Karkare juga menangkap Praggya Singh, pejabat militer dari pihak sayap kanan BJP-RSS-Bajrang Dal-VHP dan tokoh militer hindu lainnya. Jelas konteks keberanian Karkare ini memiliki relevansi sangat  besar dalam serangan Mumbai kemarin dimana indikasi kemungkinan pihak sayap kanan militan hindu ada dibelakangnya.

Narasi fakta kedekatan militan hindu sayap kanan dengan israel juga memperkuat opini kedua ini. Salah satunya  dimana pihak konter terorisme israel pernah melakukan kunjungan ke india di tahun 2002 atas undangan menteri dalam negeri india waktu itu, Lal Krishna Advani, yang merupakan calon Perdana Menteri pada pemilu 2009 mendatang dari partai oposisi sayap kanan militan Bharatiya Janata Party (BJP). Kunjungan tersebut terkait kerjasama seputar penanganan terorisme.

Ada beberapa catatan relevan untuk diungkap disini untuk menguji kedua arus opini yang berlawanan tersebut. Catatan ini antara lain berita dan analisis yang beredar di media baik korporat maupun alternatif.

Masuknya Teroris

Koran Telegraph, berbasis Kalkuta, memberitakan 9 Desember dengan Headline, “Polisi Mengklaim ID dari Gang 10″. Disitu diungkap bagaimana Komisioner Polisi Mumbai, Rakesh Maria mengatakan, “Gang 10 memulai perjalanan dari Karachi menggunakan kapal (besar /ship), Al Husaini, kemudian membajak perahu nelayan, Kuber, yang membawa mereka sampai tiga mil dari Mumbai. Lalu mereka menggunakan perahu karet yang telah bawa dan berlayar menuju Cuffe Parade. Ia menambahkan bahwa korek api, alat medis, paket nasi, paket deterjen (washing powder packets) yang ditemukan diatas perahu nelayan, Kuber, sepertinya buatan Pakistan.

Pernyataan Polisi ini sama sekali seperti cerita fiktif yang tidak bisa dipercaya, demikian menurut Robert Fisk. Dimana 10 teroris yang disebut pihak polisi, mampu lolos dari patroli Angkatan Laut (Navy) India dalam perjalanan 500 mil Karachi-Mumbai.Menurut Fisk saat ini Navy India memiliki 55.000 personil yang aktif, dimana 5000 diantaranya adalah anggota penerbang pesawat, 2000 komando marinir, dan memiliki 155 kapal pemantau, termasuk kapal -yang satu-satunya di Asia- pembawa pesawat Jet tempur, INS Viraat. AL India juga memiliki 16 kapal selam.

AL India juga memiliki 29 titik Penjaga pantai yang mengoperasikan 48 kapal pemantau dan pertahanan, yang membuatnya menjadi AL terbesat kelima di dunia. Penjaga pantai bertumpu pada kapal-kapal patroli yang berfasilitas pendeteksian moderen. Namun anehnya dengan aset AL India yang besar ini, mereka tidak mampu mendeteksi satu perahu kecil curian dalam perjalanan Karachi-Mumbai melewati perairan perbatasan yang dipersengketakan oleh pihak india dan pakistan antara lain perbatasan tanpa demarkasi yang desebut Sir Creek yang membentang sepanjang laut arab dan Rann kutch yang dijaga ketat – Agustus 1999, pesawat pemantau Pakistan ditembak jatuh oleh Angkatan udara India di Rann Kutch.

Chabad Lubavitch Center (Nariman House / Chabad House)

Berikut adalah catatan pemberitaan seputar sinyalemen keterlibatan Chabad House — ada berita beredar bahwa mereka setelah turun dari perahu langsung melakukan serangan, namun beberapa kumpulan berita berikut justru menguatkan bahw a mereka terlebih dahulu datang ke Nariman House sebelum kemudian melakukan serangan

  1. Canadian     Broadcasting Corporation memberitakan, “Dalam wawancara     telepon dengan CBC News dari luar Chabad House, Jurnalis lepas Arun     Asthhna mengatakan bahwa ada laporan2 bahwa para militan telah     tinggal di satu “Guest House” disana selamat 15 hari     sebelum serangan”. Asthhna menambahkan, “Mereka memiliki     banyak persediaan amunisi, senjata dan makanan disana.”
  2. Kepolisian     India menyelidiki mengapa Chabad Center memberikan akomodasi kepada     militan tersebut.
  3. Mid-Day     News, satu media yang dihormati yang telah 28 tahun berdiri berbasis     di Mumbai memberitakan, “Peran Nariman House dalam drama     serangan ini penuh teka-teki. Malam tadi, penghuni (Nariman House)     memesan 100 KG daging dan makanan lain, cukup memberi makan satu     pasukan atau beberapa orang untuk 20 hari. Tidak lama setelah itu,     para militan masuk, jelas, bahwa pemesanan daging dan makanan dengan     pikiran bahwa mereka akan datang. Demikian ditambahkan seorang     polisi”. Mid-Day juga mengutip saksi mata, seorang nelayan,     Vitthal Tandel, “Saya melihat 6 hingga 8 perahu datang pada     rabu petang dan sekitar 10 orang turun membawa banyak tas yang     kemudian mereka bawa ke bangunan itu (Nariman House)”. Mid-Day     juga memberitakan, “Seorang dari para militan menelepon satu     TV Channel dan menyuarakan tuntutannya, namun, menariknya, saat ia     ditanya dimana mereka bersembunyi, ia menjawab di Nariman House     milik orang Israel dan mereka (militan) terdiri dari 6 orang”.
  4. DNA     India, media mapan lainnya memberitakan, “Para teroris     datang ke Colaba (daerah sekitar pesisir Mumbai) Rabu petang”,     demikian menurut penjaga “Grocery Shop”, Mukund Shelke.     ”Sebelum masuk ke Nariman House mereka membeli makanan yang     cukup untuk 3 hari”, tambahnya. Penduduk setempat lainnya,     Joseph D’Mello mengatakan, “Mereka telah membeli dua krat     daging ayam dan minuman beralkohol (liqour) senilai Rs25000, dari     dua toko di Colaba.”
  5. The     Guardian, UK, memberitakan, “Mereka     datang lewat laut dengan perahu kecil kemudian berjalan melalui     jalan sempit Colaba lama menuju bangunan apartemen berlantai enam     yang disebut ‘Nariman House’ “.
  6. New     York Times memberitakan, “Ketika para teroris mendarat di     depan perahu Pak Dhanur, mereka hanya 3 blok satu terhalang jalan     sempit dari Nariman House yang merupakan bangunan pusat yahudi     dijalankan oleh Rabbi muda,Gavriel Holtzberg dan istrinya Rivka yang     pindah dari New York”.
  7. DNA     India memberitakan bahwa penghuni Chabad House seperti merayakan     berita kematian pejabat tinggi kepolisian (yang utama kematian     Hemant Karkare, kepala ATS investigator kasus Malegaon), “Ketika     berita terbunuhnya beberapa pejabat tinggi kepolisian diberitakan di     TV, kami mendengar bunyi gaduh dari flat tersebut. Mereka seperti     merayakan..”, demikian menurut saksi mata, Anand Raorare,     penghuni satu bangunan yang berhadapan dengan Nariman House. DNA     juga memberitakan, “Beberapa penduduk setempat menyatakan     bahwa teroris mengikuti informasi gerakan polisi dari TV (perlu     dicatat, media TV India dikritik karena menayangkan pergerakan     pasukan khususu India, Commando, yang diturunkan melaui helikopter     keatas chabad House!)”.
  8. Diberitakan     seorang “pejabat keamanan” dari konsulat Israel, yang     letaknya dekat Nariman House, ditangkap ketika ia berlari kearah     Chabad House. Jerussalem Post memberitakan, “Pejabat keamanan     di konsulat Israel Mumbai ditangkap oleh polisi india ketika dia     berlari ke arah Chabad House rabu kemarin setelah Rabbi gavriel     Holtzberg menelepon untuk memberitahu bahwa ia sedang dalam serangan     (under attack)”. Nah, apakah “attack” disini     merujuk kepada serangan teroris atau merujuk kepada serangan komando     pasukan khusus india masih menyisakan tanda tanya.

Apakah para sandera Yahudi di Nariman House benar2 sandera ataukah mereka bagian dari para komplotan teroris penyerang itu sendiri? Ini masih simpang siur. Ketika adu tembak mulai mereda antara para penyerang di dalam Nariman House dan komando pasukan khusus india, seorang perempuan muda, yang kemudian diketahui sebagai pengasuh, lari keluar bersama anak pasangan Rabbi Holtzberg-Rivka, Moshe. Sandra Samuel, pengasuh tersebut, seperti diberitakan Yahoo News, mengatakan bahwa saat ia keluar pada awal kamis sandera yang tersisa tinggal pasangan Rabbi dan istrinya. Menurut Yahoo News tidak pasti apakah empat atau lima tersangka penyerang di dalam Nariman House telah terbunuh atau tertangkap.

Namun kemudian setelah gedung dikuasai ditemukan enam mayat sandera diantaranya Rabbi Holtzberg dan istrinya, Rivka, seorang Rabbi lain warga Israel, Leibish Teitelbaum, Bentzion Chroman, warga israel dengan dua kewarganegaraan, seorang wanita warga israel dan seorang wanita tidak dikenal.

Anti Defamation League [ADL], kelompok rasis yang mengadvokasi superioritas yahudi, mengeluarkan pertanyaan seolah ingin menutupi sinyalemen keterlibatan zionis dengan mengatakan bahwa yahudi menjadi target (korban) dalam serangan. Direktur ADL, Abraham Foxman, mengatakan, “Serangan brutal ini sekali lagi menunjukan bahwa para teroris selalu menargetkan yahudi. Serangan itu adalah satu pengingat bahwa dunia harus berdiri melawan semua terorisme karena akhirnya tidak seorangpun aman sampai terorisme dilawan dalam semua bentuknya” — termasuk terorisme ADL yang memiliki sepak terjang teror a.l pengeboman, pembunuhan pihak2 yang ia sebut “anti-semit”.

Kunci informasi apakah yahudi di Nariman house teroris itu sendiri atau bukan ada pada Komando pasukan khusus india dan seorang pengasuh yang selamat. Kesimpangsiuran ini akan sedikit terbantu dengan informasi dari Komando andai bicara ke media begitu juga dari keterangan Sandra samuel. Nariman sepertinya Israel punya kepentingan untuk mengisolasi Sandra samuel dimana diberitakan dia diberi izin imigrasi tinggal di Israel.

Jumlah dan Penampilan Teroris

  1. Hingga     saat ini pemberitaan yang sudah “established/ mapan”     mengatakan bahwa teroris yang mengepung kota Mumbai dengan serangan     di 10 titik hanya berjumlah 10 orang, dimana 9 mati dan satu orang     tertangkap masih diperdebatkan validitas identitasnya. Namun laporan     polisi mengatakan 15 teroris.

    TIMES     ONLINE [TO]memberitakan, “15 jaket musim dingin ditemukan,     15 sikat gigi”, demikian keterangan dari seorang polisi.     ”Bahwa ada lebih banyak teroris berkeliaran itu mungkin”,     tambahnya. TO juga memberitakan, dengan asumsi ada 15 teroris,     ”Paling tidak 5 teroris mungkin telah melarikan diri ajang     pembantian Mumbai dan dapat menyerang kembali, sepertinya demikian     sebagaimanakemarin     Video muncul menunjukan satu-satunya anggota gang teroris     tertangkap”.

  2. Setidaknya     beberapa dari teroris adalah berwajah orang asing. Seorang polisi     yang memasuki Nariman House/ Chabad House melihat para teroris     berwajah orang asing “white” seperti diberitakan     Guardian     UK memberitakan, “Saya memasuki bangunan itu kemarin     malam”, polisi itu berkata. “Saya terkejut karena mereka     orang kulit putih. Saya pikir mereka berwajah seperti kami. Mereka     menembak tiga kali, saya menembak balik sepuluh kali”.

    BBC     memberitakan, mengutip saksi mata, Mr Mishra, “Berpenampilan     orang asing (foreign looking)”. Saksi mata lain, Mr Amir,     berkata, “Mereka tidak terlihat seperti orang india, mereka     terlihat seperti orang asing (eropa dll). Satu diantara mereka, saya     pikir, memiliki rambut pirang. Yang lain rambutnya bergaya Punk (the other had a punkish hairstyle). Mereka berpakaian rapih.

    Orang india mengetahui pasti rata-rata wajah india dan pakistan karena mereka bertemu tiap hari, khususnya     di Mumbai, dimana orang India kelas atas bisa berkumpul. Dan orang     india tahu pasti orang asing, mereka memanggil orang Amerika dan     Eropa sebagai “orang asing” “white” “kulit     putih”.

Seputar Teroris yang Tertangkap

Cukup banyak temuan keanehan seputar teroris yang tertangkap yang menurut The Hindu, 6 Desember 2008, sebuah koran presitisius berbasis di Chennai, media dunia belum sepakat dengan nama sebetulnya. Media cetak dan televisi diantara menyebutnya sebagai Muhammad Amin Kasab, Azam Amir Kasav dan Azam Amir Kasab, yang mana ini, menurut pihak pengkritik pakistan, fiktif.

Malah kemudian koran yang sama pada 9 Desember menyebutnya dengan nama baru, Mohammad Azmal Amir Iman, dimana ia mengaku katanya telah “ditipu” oleh kelompok itu (Lashkar e Thaiba).Koran lain, berbasis di Mumbai, Times of India, pada 9 Desember memberitakan Mohammed Ajmal Amir Kasab menyesali perbuatannya dan berkata dalam bahasa Hindi “Mujhe maaf kar do, mujhe apne desh Pakistan jana hai, meri emmi ke paas” (mohon ampuni saya, saya ingin menemui ibu saya, saya ingin kembali ke negeri saya Pakistan).

Menurut Robert Fisk, jurnalis yang telah lama meliput wilayah Timur Tengah dan Asia Selatan, orang Pakistan tidak biasa menggunakan kata “Desh” untuk menyebut tanah kelahiran (asal / Fatherland) tapi mereka menggunakan kata “Vatan”. Robert Fisk kemudian mengingatkan kita satu adagium, “Orang selalu melebih-lebihkan ketika ia hendak menipu”. Menurutnya Polisi India dan Mesin Propaganda India terlibat dalam usaha penipuan untuk menyesatkan dunia dan terbukti melebih-lebihkan yang justru membuatnya begitu kentara.

Melihat berbagai kontradiksi seputer pemberitaan, teroris yang tertangkap disinyalir digunakan untuk menutupi kecendurangan operasi yang terlihat seperti False Flag.Kontradiksi, ketidakcocokan, kesimpangsiuran pemberitaan itu antara lain:

  1. Diberitakan     dia tinggal di Taj Hotel untuk beberapa hari, disisi lain     diberitakan     dia langsung memulai operasi setelah turun dari perahu.
  2. Satu     berita mengatakan dia tertambak, disi lain diberitakan     tidak memiliki luka tembak.
  3. Maharashtra     Times memberitakan teroris yang menembak kepala ATS, Hemant Karkare,     komisioner polisi, Ashok Kamte dan ahli konter terorisme, Vijay     Salaskar bicara fasih bahasa Marathi (bahasa non-pakistan). Disisi lain dimana     dia (Ajmal Amir Kasav dst) dikatakan sang penembak, adalah asli     Pakistan.
  4. Dikatakan     8 teroris ditangkap. Namun kemudian diberitakan     hanya satu yang tertangkap.

Kesangsian apakah dia bisa dipercaya juga muncul diperkuat dengan pemberitaan bahwa dia tidak konsisten dengan “pengakuannya”. New York Times, Dec. 1, 2008, mengutip pernyataan seorang pejabat yang tidak ingin disebutkan karena tidak memiliki otoritas untuk berbicara ke media bahwa Ajmal Amir Kasav dsb memberikan jawaban inkonsisten terkadang dia bahwa ada 10 teroris terkadang dia mengatakan 15 teroris.

Fakta ini memunculkan kecurigaan bahwa sebenarnya bukan dia yang melakukan penembakan terhadap kepala ATS, Hemant Karkare. Apalagi saksi mata teroris di CST memakai gelang khas hindu yang berdasar perkembangan pemberitaan justru dialah Ajmal Amir sang tertangkap? Hal ini sebagaimana dicurigai bahwa interogasi sudah disiapkan pertanyaan dan jawabannya yang kemudian diklaim sebagai “pengakuan”.

“Kenapa sulit untuk percaya bahwa (pertanyaan dan jawaban) interogasi itu sudah dipersiapkan? – “Why is it so difficult to believe that he has his lines ready and scripted?“, demikian seperti ditulis dalam sebuah artikel, menyangsikan validitas “pengakuan” Ajmal.

Be continued

Next tags:
Timing Serangan, Kematian Orang Nomor 1 ATS, Ada apa dengan Keamanan Hotel Taj? Motif Amerika, Proyek Gaspipeline Iran-Pakistan-India, Hindutva, Sangh Parivar, Mossad

← Next post Previous post →

Subscribe / Share

Article by Sol Stance

I am the one of those who rally against the status quo: The Capitalist Hegemony. I take side with those who are oppressed world-wide. The Capitalists should end intervention in the Muslim World. If not, resistance is inevitable by any means possible. As promised through revelation, they will rise Caliphate which is feared and prevented by the Capitalist power. Capitalist agents/ puppet rulers will be removed throughout the Muslim World. Read 316 articles by Sol Stance

Zionist Massacring Peace Activists Again!

Executed with 4 bullets in head

A Call to Muslim Army

professional web hosting