Tanda-tanda Sebuah Usaha Kudeta di New Delhi

http://www.daily.pk, Minggu 30 November 2008

Saat negara dalam kondisi traumatis dan pemerintahan lumpuh, kelompok utama ideolog sekular dan Hindu nasionalis melakukan kudeta halus (baca: soft coup) di New Delhi untuk menaikan para hawkish (sinonim sebagaimana hawkish/ hawks untuk para konservatif di pemerintahan Bush era Condolezza rize, Paul Wolfowitz dll) yang ingin mengikuti agenda Amerika untuk menjadikan India sebagai polisi regional (bagi kepentingan Amerika) untuk mengatasi Pakistan dan melakukan konfrontasi terhadap Cina.

Dalam prosesnnya India akan mengalami kehancuran sendiri. Militer dan Intel India telah disusupi. Seorang yang membongkar penyusupan ini, Heman Kahare, sekaligus kepala anti-terorisme kepolisian mumbai, adalah target pertama dari aksi teror yang dilakukan teroris2 misterius pada kejadian teror di mumbai kemarin. Warga india patriotis harus bangkit dan menyelematkan negaranya.

Tanda-tanda awal muncul dari New Delhi menggambarkan situasi yang tidak stabil. Masalah keamanan telah terkendali namun cerita besar sedang terjadai di Delhi tidak di Mumbai. Ada tanda-tanda yang mengganjal bahwa india menyaksikan kudeta halus yang melibatkan ideolog hindu sayap kanan dan hindu nasionalis.

Dengan mengeksploitasi ketakutan2 dari bangsa yang masih trauma dan pemerintah yang lengah, satu kelompok utama sayap kanan di dalam militer india, juga dalam tubuh intelijen india serta elit politik sedang mencoba menggulingkan pemerintah PM Manmohan singh. Rencananya jelas untuk meningkatkan penetrasi elemen2 sayap kanan kedalam kekuasaan dan mendorong india melakukan konfrontasi dengan pakistan dan negara lain di wilayah tersebut.

Tujuan kelompok utama ini adalah memunculkan india sebagai sebuah superpower yg beraliansi dengan Amerika. Mereka senang dengan rencana Amerika untuk menjadikan India sebagai polisi regional dan tidak ada masalah untuk melakukan konfrontasi dengan pakistan dan cina untuk mendapatkan status ini. Mereka menganggap bahwa waktu cepat berlalu dan tidak menginginkan kepemimpinan yang ragu untuk mencapai keingingan mereka. Ketidakstabilan setelah peristiwa mumbai telah dieksploitasi untuk memulai konfrontasi/ perang melawan pakistan. Faktanya bahwa ini akan membantu militer Amerika yang sedang menghadapi saat-saat sulit di Afganistan. Satu hal yang merupakan bukan kebetulan.

Pada jam-jam awal serangan teror mumbai, para teroris misterius mampu mencapai satu tujuan utama: membunuh Heman Karare, kepala anti-terorisme kepolisian india. Seorang yang bertanggung-jawab dalam membongkar link-link rahasia antara militer india dan kelompok2 teror hindu. Penyelidikan yang dilakukannya berhasil mengungkapkan keterlibatan tiga pejabat intelijen militer india dalam aksi2 teroris yang dikambing-hitamkan kepada kelompok muslim. Pada saat pembunuhannya, Karare sedang memburu indikasi2 yang dianggap akan membongkar lebih dalam kaitan militer india dengan kemunculan kelompok2 teror hindu yang memiliki dukungan senjata dan finansial yang baik dengan jaringan luas kamp training militan mereka yang tersebar di India.

Yang menarik, kamera CCTV menangkap satu adegan dimana satu dari teroris misterius tiba satu target pertama: stasiun kereta api. Teroris tersebut, yang memakai jeans dan kaos hitam membawa senjata otomatis, terlihat mengenakan gelang berwarna oranye ditangannya yang merupakan hal yang umum dikenakan orang2 hindu. Sebagai perbandingan, satu foto mutakhir yang dikenakan seorang aktivis hindu militan dalam satu acara tahun ini dapat dilihat. Dimana ia memakai gelang yang sama. [fotonya!]

sebelah kiri, gambar diambil dari CCTV dimana satu dari kelompok teror mumbai mengenakan gelang sakral khas hindu dan membawa senjata mesin otomatis. Sebelah kanan, seorang anggota teror hindu mengenakan gelang yang sama. Gelang tersebut dipercaya para hindu fundamentalis akan membawa keberuntungan.

Iklan kampanye agresif mulai muncul di berbagai daerah di india mendorong penduduk yang ketakutan untuk melawan pemerintah [yang lengah terhadap aksi teror].

Pada hari jum’at, iklan2 di koran2 di New Delhi bermunculan menunjukan bercak darah dengan latar hitam dengan tambahan slogan “Brutal Terror Strikes At Will” dengan hurup kapital dan cetak bold. Iklan2 tersebut berisi pula pesan singkat: “Fight Terror. Vote B.J.P”.

Media india, pakistan dan internsional belum menyadari indikasi kudeta halus ini sedang berlangsung di india. Beberapa permerhati dan jurnalis mulai menangkap tanda2 awal. Begitulah sebagaimana diungkapkan reporter New york Times, Somini Sengupta:

“Pemerintahan PM Singh baru-baru ini memukul balik BJP dengan bukti bahwa para pendukungnya, anggota dari berbagai organisasi2 hindu radikal, telah terlibat dalam serangan teroris. Sungguh aneh, kepala kepolisian unit anti-terorisme, Hemant karare, terbunuh dalam serangan mumbai, dimana ia tengah dalam penyelidikan penting tentang keterkaitan sel teroris hindu. Penyelidikan Karare telah memunculkan sembilan tersangka terkait pengeboman september di daerah yang didominasi penduduk muslim, Malegaon, satu kota kecil tidak jauh dari Mumbai.”

Bukti muncul bahwa sebenarnya Karare mengetahui kemungkinan ia mengalami kematian dengan kekerasan dikarenakan penyelidikannya. Apa yang mungkin tidak ia ketahui adalah bahwa pembunuhannya tidak akan terjadi dalam satu operasi yang nyaris sempurna tsb (serangan mumbai).

Hanya beberapa jam sebelum pembunuhannya, teman dekatnya, kolonel pensiunan Rahul Gowardhan, menerima sebuah amplop. Karare menelponya untuk memberitahu bahwa ia mengirim surat rahasia berikut koran “Times of India” melaporkannya:

Hanya beberapa jam sebelumnya, Karare telah mengirim sebuah surat kepadanya dalam sebuah amplop yang membawa pesan “‘pribad’ demikian kata Gowardhan, pejabat tinggi MSEDCL. “Dikarenakan sedang ada meeting kami memutuskan untuk menunda pemicaraan telepon. Dia memutuskan telepon sambil mengatakan akan mengirim surat. Ketika saya ingin mengetahui isinya, dia mengatakan untuk membaca sendiri apa isi dalam surat itu. Saya tidak dapat memberitahukan isinya kepada siapapun”, demikian lanjut Gowardhan.

Kecanggihan serangan teror mumbai, yang berlangsung hampir 60 jam, mengecilkan kemungkinan invansi asing dan meningkatkan kemungkinan keterlibatan elemen2 berpengaruh dari intelijen india dan kelompok2 militan hindu mirip apa yang terjadi (kolaborasi) pada 29 september dalam serangan di kota Malegaon, dimana mereka mencoba mensimulasikan diri sebagai kelompok teror muslim. Dalam serangan tersebut, dimana tiga pejabat intelijen india telah ditangkap, tujuannya adalah memprovokasi reaksi dari komunitas muslim yang bisa menjustifikasi tekanan masif kepada minoritas muslim.

Para pengamat melihat bahwa para hawkish dalam organisasi2 oposan serta organsasi2 militan hindu telah merebut memanfaatkan situasi dari satu pemerintah yang lumpuh. Militer india dan intelijennya telah disusupi. Saat ini orang2 yang bertanggungjawab sebenarnya (pada aksi teror mumbai dan teror2 lain) sudah mulai mengarahkan ketakutan2 rakyat kepada pakistan.

India ada dalam jalan yang sama saat ini sepertihalnya dulu para hawkish mengambilalih Amerika setelah serangan 9/11. Tapi saat ini rakyat india patriotis mendapatkan hikmah pasca dari konstelasi politik yang ada. Mereka harus menghentikan para “warmonger” sekular dan hindu militan yang berusaha membajak india. Masa depan wilayah akan bergantung padanya.

← Next post Previous post →

Subscribe / Share

Article by Sol Stance

I am the one of those who rally against the status quo: The Capitalist Hegemony. I take side with those who are oppressed world-wide. The Capitalists should end intervention in the Muslim World. If not, resistance is inevitable by any means possible. As promised through revelation, they will rise Caliphate which is feared and prevented by the Capitalist power. Capitalist agents/ puppet rulers will be removed throughout the Muslim World. Sol Stance tagged this post with: , Read 316 articles by Sol Stance

Zionist Massacring Peace Activists Again!

Executed with 4 bullets in head

A Call to Muslim Army

professional web hosting