Teror: Eskapisme Kerapuhan Inheren
Agresifitas Israel sebagai bentuk eskapisme mental — untuk menghindari pertanyaan soal keabsahan eksistensinya yang tidak bisa Israel jawab baik secara rasional, teologis dan historis — tidak hanya berbentuk teror membabi-buta untuk melenyapkan penduduk Palestina yang Israel pikir akan menjadi batu sandungan bagi masa depan eksistensinya yang senantiasa tentu menghantuinya terkait pembantaian, perampokan dan pengusiran yang dilakukan baik padapada proses awal berdirinya atau pada saat ini dimana ia sudah mendekati jurang kehancurannya sendiri.
Tetapi agresifitas sebagai bentuk eskapisme itu juga melibatkan propaganda yang keji dan absurd. Israel menyebut pihak yang melakukan perlawanan terhadap pendudukannya sebagai teroris. Tidak hanya itu secara menjijikan Israel mempersalahkan (blaming to) pembantaian kepada yang ia bantai dengan dalih, dalam kasus Gaza misalnya, bahwa roket terus ditembakan ke wilayah yang ia rampok sebelumnya (yang kemudian mereka namai Sderot) — terlihat bahwa Israel mempermasalahkan hak perlawanan pihak yang mereka jajah, hak untuk menolak tunduk pada pembantaian, perampokan tanah dan pengusiran.
![]()
Padahal roket itu hanya bentuk penolakan untuk dibodohi oleh perjanjian-perjanjian yang Israel langgar sendiri awalnya. Sebagai contoh bahwa sebelum Israel menyerang Gaza Desember 2008, perjanjian genjatan senjata ditaati kedua belah pihak Hamas dan Israel. Lalu mengapa Israel mempersalahkan roket? Justru itu setelah Israel melanggar perjanjian dengan melakukan serangan ke Gaza pada November 2008 dimana 6 orang anggota Hamas syahid. Justru itu setelah nyata bahwa perjanjian genjatan senjata (cease-fire) tidak menghentikan blokade Israel terhadap penduduk Gaza untuk sekian lamanya. Yang kemudian ini mengakibatkan bencana kemanusiaan kekurangan bahan makanan, akses air bersih dan energi yang menyebabkan menjangkitnya malnutrisi dan lain lain.
Ketidakwarasan Mental
Mempersalahkan kejahatan kepada korban kejahatan adalah satu bentuk ketidakwarasan mental yang bersumber pada kepercayaan superioritas zionis yahudi. kita bisa lacak akar sumbernya dari Talmud soal bahwa zionis yahudi boleh menipu, boleh mengeksploitasi, boleh menjajah Goyim/ Non-Yahudi karena Goyim diciptakan untuk kepentingan Israel! Mempersalahkan kejahatan kepada korban kejahatan adalah cara Israel mencuci tangannya dari lumuran darah penduduk Palestina.
Ketidakwarasan mental yang bersumber pada Talmud itu jugalah yang membuat Israel dengan menjijikan meminta Hamas dilucuti persenjataannya dan penyelundupan senjata yang diklaim dari Iran dihentikan. Karena tidak waras, Israel tidak ingin dunia yang waras justru mempertanyakan keabsahan propaganda Israel soal self defense atau right to exist. padahal teror yang Israel lakukan adalah berawal dari perjanjian-perjanjian yang Israel langgar sendiri pada awalnya lalu pihak Palestina melawan itu lalu Israel balas dengan countermeasure yang tidak waras dengan mengerahkan kekuatan yang tidak proporsional terhadap populasi yang sama sekali terjepit, dalam kasus Gaza kemarin.
Orang waras mana yang sanggup mengatakan bahwa itu tindakan ksatria dari militer yang memiliki moral untuk menaati konvensi-konvensi internasional mengenai perang? Disinilah lagi-lagi kelemahan inheren Zionsi Israel terlihat. Tidak hanya dengan contoh bahwa diberitakan tentara zionis ada yang memakai semacam pampers untuk menghadapi kelompok perlawanan Hamas, tapi secara fundamental Israel tidak memiliki basis pemikiran yang valid menyoal eksistensi Israel. Jika ini tidak dialihkan kepada bentuk teror eksternal, Israel akan kehilangan kerekatan nasional, sekaligus perasaan memiliki tanah yang Israel klaim sebagai milik meraka padahal ia rampok dari penduduk asli Palestina. Ini tentunya adalah ancaman laten bagi eksistensi Israel sekuat apapun militer yang diperbantukan oleh Amerika kepadanya.
Propaganda dan Media: Pilar Pertahanan zionis Israel
Agresifitas propaganda Israel memutarbalikan fakta bisa dikatakan tidak lebih penting dari operasi teror Israel kepada penduduk asli Palestina. Propaganda berupaya memberikan kepercayaan, kesan bahwa Israel absah untuk melakukan apa yang ingin Israel lakukan baik di masa lalu dan masa yang akan datang.
Perang militer dan opini adalah dua sisi pedang yang Israel mainkan dengan bantuan Amerika dan Eropa serta lembaga-lembaga status quo internasional yang telah mengalami pembusukan oleh kepentingan pembelaan kepada entitas zionis Israel.
Kita memahami benar bahwa perang opini adalah front yang tidak hanya penting baik bagi rehabilitasi imej Israel di mata siapapun yang waras tapi ini juga memberikan benteng bagi kerapuhan eksistensi Israel. Dalam front perang opini ini pengalihan pertanyaan menyoal keabsahan eksistensi negara Israel bukan hanya penting tapi sebuah keniscayaan jika Israel ingin terus eksis. Disinilah relevansi kepentingan zionis Israel dalam jaringan media internsional yang notabene dimilki didominasi zionis yahudi.
Holocaust dan Revisionis
Untuk kepentingan pengalihan, Israel melalui kekuatan media dan politik melakukan pemberangusan baik kepada individu dan atau media yang dinilai mengancam Israel. Sebagai contoh terkait holocaust. Karena Holocaust merupakan satu peristiwa sejarah yang penting bagi berdirinya negara Israel dimana zionis mengambil manfaat dari politisasi peristiwa tersebut, zionis dengan berbagai cara memberangus siappun yang mencoba mempertanyakan keabsahannya khususnya soal angka 6 juta yahudi yang diklaim mati atau dokumen sejarah lainnya seperti “Anne Frank Diary” atau atau soal “Gas Chamber” – yang semuanya terbukti hoax/fake atau palsu. Malah di Eropa, dimana mayoritas pemerintahannya sudah mengalami pembusukan kepentingan zionis internasional, UU terkait Holocaust sudah umum digunakan untuk membungkam para pemikir — yang kemudian banyak disebut sebagai pemikir revisionis — yang mempertanyakan validitas narasi-narasi sejarah Holocaust versi yahudi (versi ‘resmi’).
Beberapa pemikir revisionis di Eropa dicekal, diintimidasi dan malah ada pula yang coba dibungkam dengan kekerasan oleh komplotan kriminal zionis sebagai contoh Prof Robert Faurisson, seorang professor dari Sorbonne Perancis yang terkenal vokal mempertanyakan keabsahan sejarah Holocaust versi resmi pihak status quo zionis.
Tapi alhamdulillah berkat dengan adanya internet, perlawanan terhadap propaganda dan mitos-mitos yang selama ini zionis andalkan untuk dijadikan basis latar belakang keabsahan perampokan tanah Palestina tidak bisa terbendung. Kita bisa dengan bebas mengakses dan mempelajari sanggahan sejarawan revisionis di berbagai situs antara lain situs Institute for Historical Review http://www.ihr.org , Radio Islam http://www.radioIslam.org atau Ziopedia http://www.ziopedia.org dan masih banyak lagi situs lainnya.
Perlawanan terhadap propaganda Israel juga harus meliputi penolakan reduksi masalah palestina menjadi hanya masalah Arab dan malah kepentingan nasional Palestina sebab isolasi masalah Palestina menjadi masalah dalam konteks sempit adalah usaha pemisahan akar sejarah palestina dengan islam – dimana disitu ada mesjid pertama kiblat kaum muslimin dst. Yang tidak lain ini juga untuk melemahkan kesadaran dunia islam khususnya.
Overall, Barat dan medianya mereduksi dan mengalihkan inti persoalan masalah yang sebenarnya dengan sebagai contoh mereka memilih istilah ‘konflik’ dalam pemberitaan atau di forum internasional. tentu istilah ini melampaui apa yang sebenarnya harus dibahas yakni ‘keabsahan’ eksistensi israel sebagai dasar bagi semua kemelut timur tengah umumnya, palestina khususnya. dengan kata lain mempertanyakan propagandanya soal ‘the right to exist’! dengan istilah ini kita diberi kesan bahwa israel adalah sebuah entitas politik/negara yang setara dengan negara-negara lain. dimana pada nyatanya israel adalah hanyalah penjajah dan perampok.
Persatuan Umat & Masa Depan Pembebasan Palestina
Nah, disini kita melihat dimana peluang peran aktif yang dapat kita mainkan, khususnya pihak media umat islam, yakni kita harus terus mengupayakan adalah menyebarkan fakta sesungguhnya bahwa israel hanyalah sebuah negara yang tidak absah dan fiktif. kita harus terus melawan segala bentuk public relation yang dilakukan oleh israel sendiri ataukah oleh pihak lain (Eropa, Amerika) yang memiliki tujuan untuk memberi kesan, teori, dan kesadaran bahwa eksistensi israel adalah legal dan absah.
Poin kedua, sudah jelas bahwa Eropa, Amerika dan PBB hanyalah fasilitator bagi eksistensi israel baik pada saat awal berdirinya atau sekarang saat ia sedang sekarat. Dimana mereka membantu memperlambat hancurnya negara Iblis tersebut. maka setelah secara imani umat islam dilarang untuk menyandarkan nasibnya kepada pihak musuh/ kafir, pada saat yang sama secara faktual mengatakan bahwa benar sampai kapanpun negara kafir dan lembaga internasional seperti PBB atau international crime court tidak akan berpihak kepada umat islam. Bukan karena misal markas PBB berada di new york, tetapi secara fundamental PBB secara politis adalah alat bagi penjajah dan secara historis nyatanya PBB adalah lembaga yang dibangun bagi kepentingan negara pemenang perang (WWI & WWII).
Maka jangan pernah berharap kepada PBB atau International Crime Court (ICC) yang menyebutkan tidak bisa menginvestigasi isreal dalam kasus pembantaian gaza kemarin karena katanya israel bukan anggota ICC tetapi pada saat yang sama ICC memerintahkan penangkapan pemimpin sudan Omar Bashir padahal Sudan adalah bukan anggota ICC!
Harapan kita adalah perlawanan yang berpijak kepada kekuatan sendiri dan pertolongan dari Alloh SWT! Lebanon dan Gaza telah jadi saksi bahwa kita memiliki kekuatan yang tidak terkalahkan. itu saja dengan kondisi dimana para pemimpin negara-negara arab tidak mengerahkan pasukannya untuk menolong saudarnya di Gaza, bagaimana jika seluruh pasukan kaum muslimin dikerahkan untuk melawan israel? ketika para pemimpin pengkhianat antek Amerika itu sudah diturunkan oleh gerakan umat islam?
Oleh karena itu ketidakpercayaan kita dengan basis fakta dan iman kepada pihak lain meniscayakan bahwa kita memerlukan sebuah institusi politik untuk menyatukan pontensi kekuatan militer kita. Disinilah letak relevansi apa yang telah menjadi fenomena bahwa umat islam sekarang diseluruh dunia sangat membutuhkan kembalinya negara Khilafah yang pernah mengayomi Palestina beberapa abad dan malah pada masa kemundurannyapun Khilafah menolak untuk memberikan sejengkal tanah Palestina kepada zionis yahudi yang menawarkan pelunasan hutang negara Khilafah pada waktu itu. Walau kemudian akhirnya negara tersebut berhasil diruntuhkan tahun 1924 melalui konspirasi Barat.
Pada jangka pendek kita harus terus mengupayakan perlawanan terhadap israel dan propaganda-propagandanya. secara simultan untuk tujuan jangka panjang kita harus mengupayakan terbentuknya kembali Khilafah sebagai institusi politik bagi umat Islam di dunia yang akan mengerahkan pasukan untuk melindungi tiap jengkal tanah kaum muslim, darahnya serta hartanya. Sebuah negara yang mana jumhur ulama bersepakat mengenai kewajiban penegakannya. Basis dari visi ini adalah akidah dan keniscayaan fakta akan perlunya persatuan Islam. Tentunya, disini letak urgensi melenyapkan rezim-rezim antek Amerika dan Israel di Dunia Islam sebelum gagasan pelenyapan batas nasional dan persatuan Umat di bawah satu bendera, untuk membebaskan tanah-tanah kaum Muslimin yang masih dijajah pada umumnya, Palestina pada khususnya.

